“Pembaca yang ingin memahami karakter surat Besi surat ke-57, al Hadiid, pada Al Quran diperlukan tidak saja pengetahuan agama, tetapi juga pengetahuan yang meliputi kimia modern, fisika, astronomi, dan matematika. Dengan memahami itu semua, pembaca baru dapat mengerti mengapa judul tersebut dipilih, termasuk posisi nomor surat dan jumlah ayatnya.”


Memang aneh, tampaknya, dalam pelajaran teologi, nama salah satu elemen kimia dalam tabel periodik, yaitu besi (Fe = ferrum) bisa menjadi salah satu judul surat dalam kitab suci agama. Tetapi itulah al-Qur’an, Kitab Suci Islam, Kitab yang unik.Sehingga pertanyaan bagi para peneliti Kitab Suci, terutama bagi saintis Muslim, karakter apa yang menarik pada surat ini? Lalu, mengapa besi dijadikan salah satu nama surat dalam al-Qur’an? Bukankah elemen kimia lainnya, seperti emas jauh lebih berharga?


Diakui banyak pembaca Kitab Suci Muslim merasa heran, mengapa Tuhan “berbicara” dengan judul – judul surat yang tidak lazim? Ada binatang hitam jelek (Laba-laba), ada Besi dan ada Dzulkarnain yang dianggap kisah fiktif. Dalam kasus lain, sarjana Barat seperti Geiger dan Theodore Noldek orang Belanda menyalahkan Muhammad, sebagai mengada-ada, hingga membingungkan para pembacanya.


Surat ini turun di antara masa-masa Perang Uhud, abad ke-7, pada awal terbentuknya Negara Islam di Medinah (tafsir al Mishbah). Oleh karena itu, bisa dipahami jika cukup banyak ayat yang memerintahkan pembaca untuk menafkahkan harta bagi kepentingan umum. Nama surat terambil dari kalimat ‘wa anzalnal-hadida’ ayat 25. Ayat seperti ini, menurut pandangan para intelektual Muslim, misalnya Malik Ben Nabi dari Prancis, laksana “kilauan anak panah” yang menarik perhatian bagi kaum berakal; yang diselipkan di antara pelajaran-pelajaran yang menyangkut ketuhanan.


Berikut potongan ayat.


… Dan Kami ciptakan/turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu)…………” (al-Hadid 57: 25).


Karakter pertama yang menarik perhatian adalah banyak penafsir menghindari terjemahan ‘wa anzalnal-hadiida’ dengan “Kami ciptakan besi”, padahal secara intrinksik seharusnya. “Kami turunkan besi”, sebagaimana terjemahan “Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan mizan (keadilan, keseimbangan, keselarasan, kesepadanan)”. Mengapa demikian? Karena dalam bayangan mufasir klasik, bagaimana caranya besi diturunkan dari langit? Apakah dijatuhkan begitu saja?


Namun seiring dengan perkembangan waktu, pengetahuan manusia bertambah. Ilmuwan seperti Profesor Armstrong dari NASA atau Astrofisikawan Mohamed Asadi berpandangan bahwa “memang besi diturunkan dari langit”. Jika kita membaca bukunya bapak astronomi dunia, Sir Martin Rees dari Inggris – The Cosmic Habitat – berpendapat sama.


Sains modern memberikan informasi kepada kita bahwa besi termasuk logam berat tidak dapat dihasilkan oleh Bumi itu sendiri.


Mengapa demikian?
Energi sistem tata surya kita tidak cukup untuk memproduksi elemen besi.
Perkiraan paling baik, energi yang dibutuhkan adalah empat kali energi sistem matahari kita,3 dengan demikian besi hanya dapat dihasilkan oleh suatu bintang yang jauh lebih besar daripada matahari, dengan suhu ratusan juta derajat Celsius. Kemudian meledak dahsyat sebagai nova atau supernova, dan hasilnya menyebar di angkasa sebagai meteorit yang mengandung besi, melayang di angkasa sampai tertarik oleh gravitasi bumi, di awal terbentuknya bumi miliaran tahun yang lalu. Dalam kasus yang lebih mudah, unsur Besi sekarang ini, juga turun ke Bumi bersama meteorit atau asteroid. Berbentuk bongkahan Besi. Tentu hal seperti ini tidak akan terpikirkan oleh para ahli tafsir biasa.


“emmmm… jadi teringat film Transformers. Bisa jadi film tersebut terinspirasi dari fakta diatas bahwa besi (robot-robot) berasal dari suatu bintang yang dapat memproduksi besi”


Karakter kedua, ketika menjelaskan besi “memberikan kekuatan yang hebat” barangkali pembaca membayangkan senjata pemusnah massal sekelas ICBM, Intercontinental Ballistic Missile (peluru kendali antarbenua) atau senjata pemusnah massal lainnya. Banyak contoh mengenai kehebatan besi. Termasuk unsur besi yang ada dalam tubuh manusia. Tetapi bukan hanya itu. Nikmat yang paling besar yang diberikan Tuhan kepada umat manusia adalah “desain Bumi”. Bumi dan isinya dilindungi oleh Sabuk Van Allen yang membungkus Bumi seolah-olah perisai berbentuk medan elektromagnetik ber-energi tinggi. Perisai dengan “kekuatan hebat” ini tidak dimiliki oleh planet-planet lain.


Sabuk radiasi yang membentuk energi tinggi, terdiri dari proton dan elektron, mengelilingi ribuan kilometer di atas bumi, diberi nama Sabuk Van Allen. Ada dua lapisan, lapisan pertama diketinggian antara 25.000 km – 36.000 km dan lapisan yang dekat Bumi, diketinggian 800 km – 6.000 km. Sabuk ini melindungi bumi dan isinya – salah satunya – dari ledakan dahsyat energi matahari yang terjadi setiap 11 tahun sekali yang disebut solar flares. Ledakan dahsyat ini bila tidak ditahan di angkasa dapat meluluh-lantakkan semua kehidupan di bumi, dengan kekuatan setara 66 juta bom atom Hiroshima. Perlindungan juga didapatkan dari serangan badai kosmis yang membahayakan umat manusia.


Bagaimana sabuk perisai ini terbentuk?


Sabuk ini terbentuk dari inti Bumi yang besar, yaitu terdiri dari besi dan nikel. Keduanya membentuk medan magnet yang besar, yang tidak dimiliki oleh planet lain, kecuali planet Merkurius, dengan radiasi yang lebih lemah.
Barangkali kita sekarang paham mengapa besi menempati salah satu judul surat di dalam al-Qur’an. Inti besi dan nikel “melindungi makhluk Bumi” berupa perisai elektromagnetik dengan “kekuatan yang hebat”. Namun yang terpenting, al¬ Qur’an ingin menunjukkan kepada pembaca – antara lain – bahwa sebenarnya besi tidak dapat diproduksi langsung di Bumi. Bumi hanya mendaur ulang saja (The Cosmic Habitat – Sir Martin Rees). Oleh karena itu, ia langsung diturunkan dari ruang angkasa untuk dimanfaatkan oleh manusia sesuai dengan ayat 25.


ELEMEN BERAT BESI Fe-57
Karakter ketiga berhubungan dengan elemen kimia dalam tabel periodik. Kita tidak mungkin menafsirkan Surat Besi tanpa “membedah” elemen kimia besi berikut karakterisistiknya, yang berhubungan dengan kata “al- Hadiid. Tanpa mengenal sifat-sifat besi, pembaca tidak akan mengetahui “keindahan” Surat Besi ini, yang diletakkan pada nomor 57. Tepat ditengah.


Sebelum masuk materi yang lebih dalam, penulis ingin memberi penjelasan tentang susunan abjad Arab. Ada 2 versi susunan abjad Arab, (1) Versi pertama, biasa digunakan untuk belajar bahasa Arab, atau belajar membaca Kitab Suci Muslim. Dimulai dengan 4 huruf, Alif, Ba, Ta, dan Tsa. (2) Versi kedua, berdasarkan evolusi bahasa dunia, yang ditemukan di Ebla, kota kuno di Syria, tahun 325 SM. Dimulai dengan 4 huruf yaitu Alif, Ba, Jim, dan Dhal. Dari sini, muncul kata ABJAD.Susunan huruf Arab Versi ke-2 inilah yang dapat digunakan sebagai “cipher” atau pengurai kode al Qur’an. Dimana tiap abjad memiliki nilai tersendiri, yang berbeda satu sama lain. Abjad Arab selain digunakan untuk menulis dan membaca ia juga digunakan untuk berhitung, dan kini dipakai sebagai “cipher”. Misal saja nilai abjad Alif adalah 1, dan nilai abjad Qaf urutan ke-19 adalah 100.


Kembali ke al-Hadiid atau Besi, nilai kata atau al-jumal al-Hadiid adalah 57. Terdiri dari al (31) dan hadid (26). Dimana :Alif = 1, Lam = 30, Ha = 8, Dal= 4, Ya = 10, Dal = 4 atau 1 + 30 + 8 + 4 + 10 + 4 = 31 + 26 = 57.


Fakta Pertama
Fakta menunjukkan bahwa besi atau al-Hadiid mempunyai nilai (al-jum’al) 57, sama dengan nomor suratnya yaitu 57 juga.
Besi, menurut Peter Van Krogt ahli elementimologi, telah lama digunakan sejak zaman prasejarah, 7 generasi sejak Adam as. Besi adalah salah satu elemen berat, dengan simbol Fe, atau ferrum, yang berarti “elemen suci” dari kata Iren (Anglo-Saxon). Diberi nama ferrum, ketika pemerintahan Romawi, kaisar Roma yang bernama Marcus Aurelius dan Commodus menghubung¬kan dengan mitos Planet Mars. Ilmu kimia modern mengatakan bahwa besi atau Fe ini mempunyai 8 isotop, di mana hanya 4 isotop saja yang stabil, yaitu dengan simbol Fe-54, Fe-56, Fe-57, dan Fe-58.
Bagi siswa Kimia modern, akan mengetahui bahwa Besi mempunyai nomor atom 26, posisinya terletak di tengah-tengah tabel periodik. Sedangkan Fe-57, salah satu isotop besi yang stabil mempunyai 31 neutron. Ini berbeda dengan isotop stabil lainnya, misalnya Fe-56 mempunyai 30 neutron dan Fe-58 mempunyai 32 neutron. Fe-57 juga diketahui mempunyai “ionisasi energi” tingkat ke-3, sebesar 2957 jk/mol (dibulatkan), energi yang keluar untuk mengubah status Fe+2 ke Fe+3. Besi sendiri mempunyai 4 tingkatan energi–itulah mengapa hanya 4 isotop saja yang stabil. Terakhir yang tidak kalah penting, Fe-57 juga diketahui mempunyai massa atom sebesar 56,9354, jika dibulatkan menjadi 57.


Fakta Kedua
Begitu kita mengenal karakterisitik besi, kita mendapat gambaran banyak hal, misalnya:• Salah satu isotop besi yang stabil, Fe-57, mempunyai nomor simbol sama dengan nomor Surat al-Hadiid, dan al-jumal dari al-hadiid yaitu 57 juga.• Besi mempunyai nomor atom 26, ditunjukkan oleh al-jum’al kata hadiid.• Fe-57 mempunyi elektron 31 buah, ditunjukkan oleh al¬-jum’al dari kata “al”.• Ionisasi energi ke-3 yang dilepas sebesar 2957 jk/mol. Surat al- Hadiid mempunyai ayat berjumlah 29 buah atau kode 2957.• Enkripsi pada keempat isotop stabil, Fe-54, Fe-56, Fe-57, dan Fe-58 merupakan kelipatan 19 atau: 54565758 = 19 x 2871882• Demikian juga massa atom Fe-57, 56.9354 adalah: 569354 = 19 x 29966
Bukan suatu kebetulan, jika nomor surat dan nomor ayat besi (Al Hadiid, 57: 25) ditunjukkan dengan angka 19 juga yaitu 5+7+2+5 = 19.


Fakta lain: MATEMATIKA.
Dalam bahasa matematika, angka 57 dan 29 adalah pasangan yang istimewa. Hal ini disebabkan : Penjumlahan angka 1 hingga 57 atau 1+2+3+4+5+…….+56+57 = 57 x 29. Ini didapat dari persamaan matematika, yang mengatakan bahwa penjumlahan bilangan dari 1 hingga n adalah sama dengan dengan n x (n+1)/2. Pembaca sudah mengetahui bahwa angka 57 digunakan untuk posisi nomor surat dan angka 29 digunakan sebagai jumlah ayat surat Besi. Aneh bukan?


Dengan demikian, surat Besi pada Al Quran menunjukkan karakter yang unik, ia meliputi pelajaran ketuhanan dengan berbagai isyarat sains modern, kimia modern, fisika, astronomi dan matematika. Namun demikian hanya pembaca yang mau menggunakan akalnya (aqlu) saja yang dapat memahami semua ini, ibaratnya “ anak panah yang berkilauan“ dari pandangan Malik Ben Nabi, intelektual Muslim Prancis abad ke-20.


Pembukaan Al Hadid
Al Hadid secara harfiah aritnya besi, dan surat ini dinamakan dengan Al Hadid karena dalam ayat 25 dari 29 ayat di surat Al Hadid ini, Allah menyebutkan secara eksplisit tentang besi ini, “Kami turunkan besi, dan pada besi itu ada kekuatan yang sangat dahsyat dan banyak sekali manfaat-manfaatnya bagi manusia”, sayangnya walaupun yang pertama kali diingatkan adalah orang yang beriman, ternyata dikemudian hari yang lebih pandai menggunakan dan memanfaatkan besi itu yaitu orang-orang non muslim, setelah mereka berinteraksi dengan masyarakat Islam pada abad pertengahan, dan jadilah ayat ini pun sebagai sebuah teguran bagaimana ilmu kauli perlu diperdalam untuk meralisasikan pemanfaatan besi bagi kehidupan manusia.


Surat ini termasuk madaniyah dan ayat-ayat madaniayah pada umumnya berupa seruan dan perintah pada orang-orang yang beriman. Dan kalau kita lihat secara global dari surat Hadid ini, tema besarnya adalah perintah Allah kepada orang yang beriman agar merealisasikan pengakuan keimanannya, agar mewujudkan iman itu dalam prilaku dan pengorbanan mereka. Tapi, sebelum Allah menyapaikan tentang perintah merelaisasikan keimanan, kita dikenalkan dulu tentang Allah dan kekuasaanya.


Kalau kita perhatikan pada ayat tujuh dan seterusnya, mulai disebutkan “Berimanlah kepada Allah dan kepada Rasulnya dan berinfaqlah (dijalan Allah) sebagian dari harta yang dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah),” dan kemudian dijelaskan orang yang beriman dan berinfaq akan mendapatkan pahala yang sangat besar, dan ayat-ayat berikutnya terus mengingatkan kepada kita untuk merelaisasikan keimanan kita, diantaranya lewat pengorabann kita, lewat infaq kita untuk fisabilillah. Bahkan diayat sepuluh, dikatakan “Mengapa kalian tidak mau berinfaq dijalan Allah padahal semuanya ini milik Allah”, dan dijelaskan pula yang berjuang dan berinfaq pada generasi pertama, disaat perjuangan, dan yang berinfaq lebih dahulu, berbeda dengan yang kemudian, orang yang berjuang pada masa makkiyah berbeda dengan masa madaniyah. Orang-orang yang pertama itu adalah asabikun nassabikun, makanya dikatakan “tidak sama orang yang berinfaq sebelum fathu makkah, dan setelah fathu makkah,” ketika infaq itu disaat perjuangan nilainya jadi berbeda karenanya dijelaskan dalam hadits “mereka itu jauh lebih besar pahalanya dibandingkan yang berinfaq setelahnya,” yang berinfaq dijalan Allah pada hakikatnya meminjamkan kepada Allah. Dan pada ayat setelahnya infaq itu sangat dominan, Bahkan kalau dilihat diterjemahan Departemen Agama sub judul infaq itu hampir mencakup seluruh surat Al Hadid ini.


Tapi sebelum kita diperintahkan untuk merelaisasikan keimanan, diawali dulu dari diayat satu sampai enam, diceritakan ketundukan alam semesta kepada Allah Swt, ini menegaskan bahwa ketika kita tunduk kepada Allah maka kita telah mengikuti arus besar mahluk Allah swt. Ini menegaskan bahwa kita dituntun untuk mengenal dia baru diperintahkan tunduk kepadanya.


Keutamaan surat Al Hadid
Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Imam Ahmad dalam musnadnya menjelaskan, “Dari Irbad bin Sariyah dia menyampaikan kepada para sahabat, bahwa Rasulullah Saw, terbiasa membaca surat musabbihat, (yang awalnya memakai sabbaha atau yusabbihu) sebelum beliau tidur” termasuk surat Al Hadid ini karena awalnya sabbahalillah, jadi yang dibacanya itu, surat yang awalnya sabbaha (fiil madi), atau yusabihu (fiil mudare) atau sabbaha(fiil Amr). Tapi, kalau sekarang orang biasanya nonton sinetron sebelum tidur, atau nonton sinetron sampai tertidur, kalau kemudian dia meninggal kemungkinannya su’ul khotimah, karena yang ditontonnya itu negative. Saya pikir kita perlu menata ulang kehidupan kita, ada seorang ulama dikalangan salafushalih berkata “Umat ini tidak akan membaik kecuali dengan cara bagaimana dia menata hidupnya sebagaimana generasi awal.”


Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan pula sebuah Hadits “Bahwa didalam surat musyabihat ada satu ayat yang nilainya lebih utama daripaada seribu ayat”, kalau seribu ayat itu sama dengan membaca surat Al Baqarah empat kali, dan ayat inilah yang sering dibaca Rasulullah dan dipadu dalam do’anya. Dan Ibnu Katsir mengatakan yang dimaksud ayat itu adalah ayat ke3 dari surat Al Hadid ini.


Disebutkan juga ada sebuah riwayat, didalam menafsir surat Zalzalah Ibnu Katsir menyebutkan sebuah hadits, ada seorang tua berkata kepada Rasulullah saw, “ya Rasulullah bacakan kepadaku surat, lalu Rasulullah mengatakan baca tiga surat alif lam ra itu seakan membaca Al Qur’an penuh, lalu orang tua itu mengatakan “ya Rasul saya sudah tua,” kata Rasulullah bacalah surat ha mim, dia menjawab sama, Rasulullah berkata kata lagi, bacalah musabbihat, dia menjawab sama, bacalah surat Zalzalah, Rasul berkata berbahaghialah orang tua yang kecil ini”. Ini yang dianjurakan oleh Rasulullah kepada orang yang tidak bisa merutinkan membaca Al Qur’an secara umum.


Bagian pertama Surat Al Hadid


“Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada dilangit dan dibumi, dan dia (Allah) maha perkasa lagi maha bijaksana”.(Al Hadid:1)


Begitulah Allah menjelaskan bahwa alam semesta ini bertasbih. Tasbih secara lughowi mensucikan Allah, dalam arti dia tunduk sepenuhnya kepada Allah dan tidak tunduk kepada yang lain, jadi tidak mensejajarkan Allah dengan yang lain, itu hakikat dari tasbih. Tasbih juga bisa berarti mengucapkan tasbih, dalam sebuah hadits dijelaskan ada dua bauh kata yang ringan diucapakan tapi sangat berat timbangannya disisi Allah dan sangat dicintai Allah. Yang dituntut kepada kita adalah kedua-duanya. Disini diingatkan bahwa alam semesta itu semuanya bertasbih kepada Allah swt, tapi karena keterbatasan kita, kita tidak memahami cara mereka bertasbih. Tapi, yang paling penting bukan kita menelusuri cara mereka bertasbih, tapi sudahkah kita bertasbih sebagaimana alam semesta bertasbih.


Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini bahwa semuanya di alam ini bertasbih termasuk juga hewan dan tumbuhan, dijelaskan dalam surat Al Isra' , “Langit yang tujuh lapis itu dan bumi dan siapa saja yang ada diangit dan dibumi itu bertasbih kepada Allah swt,” tidak ada sesautupun kecuali bertasbih kepada Allah, makanya kalau orang mukmin ketika dalam lingkungannya dia sendirian dia tak pernah kesepian karena dia bersama alam semesta. Makanya dia tentram, walau orang melihatnya sendirian.


“Dia maha perkasa, lagi maha bijaksana” Tinggal kitanya apakah kemudian kita menunjukan ketakaburan kita dan Rasulullah menjelaskan ketakaburan itu menolak kepada kebenaran,sehingga tidak mau tunduk kepada Allah swt, seperti yang dilakukan iblis ketika disuruh menghormati Adam, karenanya Rasulullah mengingatkan kesadaran diri kita sebagai hamba itu harus melekat didalam hati dan pikiran kita, itu sebabnya makanya pagi dan sore kita dianjurkan membaca syaidul istighfar. Karena, ketika kesadaran ini mengendur maka lahirlah ketakaburan, makanya dalam hadits disebutkan “Tidak akan masuk sorga ketika didalam hatinya ada ketakaburan walau kecil


Dialah yang memiliki kekuasaan dilangit dan dibumi, dialah yang menghidupkan dan mematikan dan dilah yang maha kuas atas segala sesuatu” (Al Hadid:2)


Itulah ketentuan Allah apabila dia menghendaki jadi maka jadilah. Ayat kedua juga menjelaskan tentang Allah, ayat ketigapun menjelaskan tentang Allah. Disini jelas bagaiman kita diperkenalkan dulu tentang Allah agar kemudian kita bisa tunduk dengan mudah, apabila seorang anak setelah besar dia diperkenalkan kepada ayah asuhnya yang telah membinanyanya dia sampai besar maka dia kalau disuruh cium tangan maka akan menurut, makanya kita lihat nanti setiap perintah untuk tunduk kepada Allah diawali diperkenalkan dulu tentang Allah, ini yang disinyalkan Abdulah bin Ammar, “Dulu kami diterangkan iman baru perintah, berbeda dengan orang sekarang diberikan perintah-perintah tapi keimanan belum ditanamkan mereka campakan perintah itu seperti mencampakan korma busuk.”


Dia-lah yang awal dan yang akhir dialah yang nampak dan yang tidak nampak dan dia maha tahu tenatng segala sesuatu”(Al Hadid:3)


Dijelaskan Ibnu Katsir, beliau mengutip hadits riwayat Imam Bukhari salah satu pengertian Adzhohiru wal batinu adalah “Allah tahu segala yang nampak dan Allah tahu yang tidak nampak” bahkan Allah dikatakan “maha tahu apa yang tersembunyi didalam dada”, perinciannya diayat empat, Allah mengetahui apa yang masuk kebumi, apakah mayit dikuburkan, apakah air yang menyerap, dan mengetahui apa yang keluar dari bumi. Dan yang turun dari langit dan yang naik kelangit termasuk juga amalan kita.


Dijelaskan pula oleh Ibnu Katsir yang riwayat Imam Ahmad menjelaskan makan Dzohir dan batin, yang menununjukan sifat Allah ini “Dari Abu Khurairah bahwa Rasulullah berdo’a menjelang tidurnya setelah membaca surat musabbihat “ya Allah Rabb pemilik seluruh langit yang tujuh dan pemilik Ars yang agung, ya Allah engkaulah tuhan kami dan tuhan segala mahluk, ya Allah Tuhan dilangit dan bumi, Engkau yang telah menurunkan taurat, injil dan Furqon (Al Qur’an), Engkau yang menumbuhkan biji-bijian dan membelahnya ketika tumbuh. tidak ada Tuhan melainkan Engkau, aku berlindung kepada segala sesuatu yang jahat yang ubun-ubunnya dalam kendaliMu, Engkaulah yang pertama tidak ada sebelum Engkau, Engkaulah yang akhir sesudahMu tiada lagi yang lain, Engkaulah yang dzohir diatasMu tiada lagi yang lain Engkau yang batin dibawahMu tiada lagi yang lain, lunaskanlah seluruh hutang kami dan berikanlah kecukupan kepada kami” .


Dalam riwayat yang lain hampir sama isinya dijelaskan bagaiman posisi Rasul ketika membacanya, “dari Suhail, bahwa Abu Shalih memerintahkan kami membaca do’a ini sambil bertumpu pada sisi sebelah kanan,” ini perlu dicermati, kenapa demikian. Ada yang mengatakn posisi jantungnya sangat bagus, tapi sunnah Rasulullah itu tentunya sunnah banyak hikmahnya.


Riwayat yang lain dari Aisyah, “bahwa Rasulullah memerintahkan agar tikarnya itu digelar, posisinya menghadap kiblat, kalau dia telah berbariang, lalu dia bertelekan pada tangan sebelah kanannya, lalu beliau berkomat-kamit, nggak diketahui apa yang dibaca, diantar kata-katanya pada penghujung malam itu, dikeraskan sedikit suaranya (seperti do’a yang tadi sampai akhir)”. dari do'a Ini Jangan dipahami kita berdo’a banyak-banyak kemudian menghutang banyak-banyak, sebab Rasulullah Saw, sebelumnya berta’audz untuk tidak terlibat utang. Dan do’a yang di awali asma’ul husna itu do’a mustazab, sampai Allah memerintahkan secara ekplisit “Allah memiliki asma’ul husna maka memintalah do’a dengan asma’ul husna ini”.


sumber :
* Arifin Mufti. Diambil dari salah satu bab buku “Matematika Alam Semesta dan Kode Al Qur’an”